Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan ini https://ykusika.com/2023/03/11/cerita-tukang-nasi-goreng/ jadi mending baca dulu tulisan sebelumnya supaya dapet konteksnya. Dicerita sebelumnya saya melihat bahwa ternyata tukang nasi goreng itu dibutuhkan berapapun jumlahnya dan hanya bisa diproduksi atau direplikasi lewat close mentorship dan tidak ada cara lain.

Nah baru-baru ini rame tukang nasi goreng yang menyalahi hukum di dunia pernasi-gorengan. Dia tiba-tiba bilang kalo nasi goreng itu bisa dibuat dari bubur dan mengklaim rasanya lebih enak dari nasi goreng konvensional. Tukang nasi goreng ini juga merasa bahwa produk dia adalah dari masa depan dan bahkan pernah membuat resto nasi goreng dengan tagline : resto paling sehat seindonesia tapi bangkrut ga jelas. Sebenernya ini semua ga akan jadi masalah kalo ajah dia bilang dari awal kalo dia jualan bubur goreng. That’s it! Dengan jantan dan berani bisa mengakui kalo dia emang beda dan penemu sebuah sekte baru yaitu bubur digoreng. Tapi dia lebih memilih tetap berada di jalur nasi goreng dan membuat persatuan tukang nasgor di mana-mana seantero Indonesia jadi heboh.
Well, let me explain how this works : gelar Tukang Nasi Goreng itu hanya bisa dimiliki (secara normal sesuai adat dan adab) dengan cara ditunjuk dan ditunjuk didepan para langganan dan kemudian didoakan didepan langganan-langganan oleh kepala asosiasi tukang nasi goreng tempat tukang itu bernaung. Jadi gelar itu tidak bisa didapatkan hanya karena seseorang tiba-tiba punya ruko buat resto atau punya gerobak atau lulusan sekolah masak. Lulus sekolah masak artinya orang itu pernah belajar masak, tapi sama sekali ga jamin orang itu bisa masak enak dan bergisi. Nah karena sekarang udah hampir semua asosiasi tukang nasgor bereaksi terhadap si pencipta sekte sesat bubur goreng itu dari sisi cara memasak, dari sisi kemurnian bahan, dari sisi kesesatan bumbu dan rempah. Jadi saya ga akan nulis tentang dia dan tentang kesesatannya.
Tulisan ini adalah tentang betapa NASI GORENG yang simpel tapi disukai banyak kalangan itu adalah makanan yang rentan untuk dimasukin bumbu-bumbu asing dan rempah-rempah asing yang kemudian akan mengubah esensi nasi goreng itu sendiri. Cara masak bisa berganti, cara jualan dan cara berdoa saat masak bisa beda-beda tapiiiiiiiii Tukang Nasi Goreng itu harus di cek dan ricek dan ricek dan ricek lagi. Tukang nasi goreng kalo udah terkenal suka belagu dan berasa jadi Tuhan padahal cuma tukang. Tukang nasi goreng kalo udah ga jelas dan serba rahasia serba ekstrim dan ga bisa jaga tutur kata lebih baik kita berhenti langganan dan cari tukang nasi yang jelas asosiasi pedagangnya, Jelas pemahaman tentang nasi dan bumbunya, jelas pertanggung jawabannya. Kita hanya ingin makan nasi goreng yang enak dan sehat itu ajah. Ga muluk-muluk kan, karena saya percaya semua tukang nasi itu baik, tapi ga semua cocok sama selera makan kita. Jangan karena tukang X dari asosiasi XBX atau tukang XY dari asosiasi XYZZ maka pasti aman. Tidak ada yang aman. Semua membutuhkan filter nalar (atau wisdom atau hikmat) dan “BUKU RESEP” supaya segala sesuatunya sesuai dgn rancangan Sang Pencipta nasi goreng.
Saya sendiri sebagai seorang tukang nasi goreng yang ada di asosiasi nasi goreng yang cukup baik dan saya ditunjuk menjadi penyuluh dari tukang tukang nasgor se Asia tenggara dan Timur Tengah dan Kepulauan Riau. Saya merasa kalo emang pelanggan itu banyak tapi sedikit tukang nasgor yang baik dan bener dan enak. Kalo emang mau jadi Tukang yang baik yah, masih banyak resto-resto yang kosong ga ada yang masak, masih banyak gerobak-gerobak yang terbengkalai. Ga usah rame di podcast atau di sosmed, pergi ajah ke pulau di ujung Kepri sana, banyak yg cari nasi goreng. Tukang nasgor kok rame di podcast sama sosmed, euweuh gawe! Kalo emang bener tukang pasti tahu kalo kerjaan itu banyak ga sempet bikin konten aneh-aneh memperdebatkan nasi sama bubur. Yah balik ke basic ajah, biar tukang nasgor itu dinilai dari nasgor nya bukan dari tattoo nya. ✌️
Semoga persoalan nasi goreng ini bisa dipahami dan dicermati bersama, stop following apalagi beli tukang bubur goreng sesat dan stop talking about him. Stop making stupid people famous. Inget ini soal bubur goreng bukan soal jelema goreng. Salam bubur diaduk!