MALU BERTANYA SESAT DI MASA DEPAN

I still remember the first time I encountered the internet in 1995, nearly 30 years ago. I was introduced to a search engine called Yahoo, and two years later, when I was in the computer lab during my first year as a university student, I created my first email address there. Surprisingly, I still have it to this day. Time flies; those moments I can still remember very clearly. Sitting in front of the computer, facing a Yahoo search engine, I wondered what to search for. Nearly 30 years ago, at seventeen, I started typing everything I wanted to know about the world out there. My queries ranged from simple to complex things, from looking at pictures of places to reading encyclopedias to find interesting facts. I searched for pictures of girls (what can I say, I was a young and foolish boy) to forums and email listings on topics I wanted to learn about.

Yahoo in 1995

Well, back then the internet was not as comprehensive and fast as it is today, and the search engines were not as powerful as Google is now. It was a time when, if you didn’t know exactly what you were looking for, you’d never find it. The super limited information and technology forced me to think hard about how to ask the right questions every time I logged onto the internet. Whether that was in forums, in email listings, or elsewhere – during those days, we couldn’t just ask a search engine; the technology wasn’t there yet. You had to find places where you could interact with other people who had the information or knowledge you were seeking. There was no Wikipedia yet, so the information was out there, but you needed to find the right sources, because there were so many ‘wrong sources’ along the way. So, the only thing I knew about ‘surfing’ (yes, the term was ‘surfing the net’ back then) on the internet was how to ask the right question.

Nah, bertanya adalah sebuah seni dan ilmu. Kalo menurut saya, mampu bertanya adalah sebuah modal yang sangat mahal harganya. Let alone bertanya yang baik dan pintar, berani nanya ajah udah sebuah modal besar bagi seorang anak Indonesia kayak saya yang tumbuh dengan sistem pendidikan aseli Indo dan guru-guru dan presure dari teman yang ujung-ujungnya biasanya kalo mau nanya tuh malu. Bertanya artinya bego atau bertanya artinya ga punya teman. Akhirnya banyak dari kita yang ga biasa (bukan ga bisa) bertanya dan kehilangan banyak sekali kesempatan untuk berkembang secara ilmu dan pengalaman. Cuma gara-gara masalah malu bertanya. Masih mending kalo malu bertanya itu kemudian rajin membaca, rajin bergaul dan rajin traveling,

Bayangkan sebuah acara talkshow, semua acara talkshow itu modal utamanya adalah kemampuan si pembawa acaranya untuk bertanya. Contoh ajah, think about any viral podcast, yang membuat podcast itu menarik adalah karena kemampuan untuk bertanya, mendalami dan menguak sebuah informasi dari pengalaman lawan bicaranya. Skill ini tidak bisa datang otomatis dan tanpa latihan, yang membuat kita semakin mahir dalam bertanya adalah apabila kita pernah memulainya.

Let’s put it this way: Why don’t we give calculators to our children? It’s because they haven’t been trained in addition, subtraction, multiplication, and division, and they haven’t mastered these concepts. Once they master them, calculators will help rather than spoil them, preventing laziness. Similarly, in life, why do I think we need to ask questions? It’s because asking questions is a basic concept before we start using money, networks, the internet, and basically anything else in life. Now imagine how a simple thing like asking a question can be an essential skill, yet it is often disregarded due to its simplicity.

Ok sekarang soal A.I. Artificial Intelligence. Sebagian orang khawatir, sebagian orang senang, sebagian orang bingung, dan sebagian lainnya tidak peduli dengan apa yang terjadi. Well, menurut saya A.I. akan menjadi kebutuhan sehari-hari seperti halnya Google hari ini. Perlu dicermati buat yang merasa ‘saya tidak pakai Google dan tidak pernah sengaja buka Google search engine untuk cari sesuatu’. Yah… well, jika hape kamu adalah Android, pasti kamu perlu mendaftarkan email Gmail. Semua aktivitas dan perilaku yang dilakukan lewat hape itu terekam dan terdata. Jadi, tidak harus melakukan pencarian di search engine-nya secara langsung. Intinya adalah kita tidak bisa hidup tanpa Google di jaman ini. (Bisa sih, tapi most people tidak bisa) Dua tahun lalu saya ingat dunia dihebohkan dengan kedatangan chatgpt, sebuah chat generator powered by artificial intelligence dan berguna untuk membuat kalimat yang baik dan benar serta ‘indah’ hanya dengan memasukkan perintah yang pendek. Jadi seperti punya ghost writer pribadi yang bisa mengarang indah dengan perintah-perintah yang tidak indah. Hari ini chatgpt bukan saja mampu melakukan itu tapi bisa membuat berbagai macam hal lain. By the time I write this, chatgpt memiliki 180.5 juta users. Dan A.I. bukan hanya chatgpt saja, di luar sana ada ratusan tools powered by A.I., all designed to make our lives easier and faster.

Ok sampai sini, bisa kita lihat trend yang akan terjadi. If you don’t teach your children how to ask questions, they will never master the art of asking the right questions. Dan jika mereka bertumbuh dalam era A.I. ini, mereka akan tumbuh dengan jawaban-jawaban yang mudah dan dimanjakan oleh teknologi. Sebenarnya, ini memiliki sisi baik, tetapi seperti yang saya tulis tadi, jika anak kecil belum siap menggunakan kalkulator tetapi diberi kalkulator, seumur hidupnya dia akan bergantung pada kalkulator dan tidak akan menggunakan otaknya untuk berhitung. Bukankah kita juga sudah membuat ‘produk’ semacam itu? Kita mendidik generasi yang tidak bisa mencuci baju, mencuci piring, menyetrika, mengganti ban serep, mengganti lampu kamar yang mati, mengisi air radiator sendiri, dan banyak lagi ketidakmampuan lainnya. Semua harus serba pembantu atau pegawai, kan? Apakah saya anti A.I.? Oh, tentu saja tidak, saya sudah menggunakan chatgpt sejak pertama kali dia muncul. Sampai hari ini, saya masih menggunakan versi berbayar. Untuk membuat khotbah? Yes, untuk semua hal, tidak hanya membuat khotbah. Tapi tentu saja bukan dengan perintah seperti: ‘create me a 4 points sermon with a gratitude theme.’ Bisa saja menggunakan perintah itu, tapi akan terlihat sangat tidak bijaksana, tidak bisa bertanya dengan benar. Chatgpt membuat saya mampu mencari banyak hal dengan cepat dan secara komprehensif. (lebih dan lebih komprehensif saat ini) Jadi, apakah kemudian saya akan bergantung pada chatgpt? Tentu tidak karena saya memperlakukannya sebagai alat, bukan sumber. It’s not the source of my information, it’s the tool I use to gather information. Since I know the source, which is the Bible, I can notice if there’s any mistake in the information provided by A.I. See? We need to master the basics, master the old way, and equip ourselves with the upgrade.

Jadi kemampuan kita bertanya bisa membuat banyak perbedaan di hasil akhirnya. So what kind of generation do you want to rise? The one who can live with all the technology or the one who cannot live without? Think about that!