Penolong yang Sepadan

This year is our tenth wedding anniversary. I just want to share with you all about how we enjoy all the journey and all the rollercoaster ride. a little background story, me and my wife are (still are) two different poles. She is introvert, I’m extrovert, she is neat, I am clumsy. She scored all the different letters in the Myers-Briggs test (known as MBTI too) with me. We are different. That’s why we complete each other, I am not saying this because it’s a good thing to say, but because it is the truth. But I want to tell you the side story, it was not always like that. We know that we complete each other since like forever, but yet no, we don’t want to give in like so easy. Do you know to complete each other is like to give all your good side and also the bad side because it’s one package?. Saat kita memberikan seluruh keberadaan kita dalam sebuah hubungan, kita memberikan seluruhnya, tidak hanya yang baik tetapi juga semua yang kurang baik, kenapa ? karena itu tidak terthindarkan. Saya bahkan tidak mengetahui bahwa itu buruk sebelum istri saya mengatakannya. When she pointed it out, I was surprised. I never knew that being dominant is wrong. well, being dominant is okay, while at the same time it demands things should work my way. I also have a strong voice, which often misinterpreted. And the list will continue … while my wife is a pure introvert, she’s independent and not clingy which is also means she values our time together very much and doesn’t really attract to a large group. So bottom line is we married a “whole-package” person with their advantages and disadvantages, with their good habit and also the bad one, their best qualities and the worse one. Nobody’s perfect.

Jadi gimana kita bisa menerima secara utuh pasangan kita ? Well saya tidak menerimanya, saya menikmatinya. Sebuah keputusan yang saya ambil dari sejak masa pacaran. Saya dan Rika berpacaran 5 tahun, dan ada waktu 2 tahun sebelum masa berpacaran itu yang cukup dekat tetapi belum pacaran, jadi total sudah 17 tahun saya mengenal dekat Rika. Konsep saya dalam berpacaran / courtship adalah bahwa Allah tidak memberikan jodoh selain kepada Adam manusia pertama. Hanya Adam yang “disodori” oleh Tuhan pasangannya. (Kemudian di protes pula “perempuan yang Kau tempatkan disisiku, dialah yang memberi buah pohon itu …) Hanya Adam yang “dijodohkan” oleh Tuhan, sisanya dalam seluruh Alkitab tidak ada lagi kisah pasangan yang “dijodohkan”. Dengan konsep itu saya belajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan saya atas teman hidup saya sepenuhnya dalam arti, saya yang milih, saya yang suka, saya menyatakan cinta, diterima, seluruh konsekuensinya akan saya tanggung. Tentunya dalam semua proses itu adalah dalam pertolongan dan perkenan Tuhan juga but you all know what i meant. Sejak saya mengatakan saya tertarik dan meminta Rika menjadi teman hidup saya, saya tahu bahwa cinta ada hanya untuk waktu yang terbatas (saya bahas itu nanti), tetapi commitment dan acceptance itu harus tidak terbatas. Penerimaan dan komitmen harus ada di sana untuk waktu yang sangat lama, karena itu waktu memilih Rika saya tidak masalah dengan rupa dan outer look nya, she’s pretty since then until today. Saya bermasalah dengan komitmen dan penerimaan saya dengan pribadinya, saya berperkara dengan diri saya sendiri apa dia adalah perempuan yang tepat untuk menolong saya? Pertanyaan itu diuji terus menerus sampai saya memutuskan untuk menikah. Pacaran menjadi tempat “bertempur” pemikiran kami, “is she/he the right one ?” Because it’s not up to God’s, it’s up to us, we bear the responsibility of a free will so we must be wise and close to God. Setelah pertimbangan emosi, rasio dan pola asuh, latar belakang pendidikan, visi misi dan lain-lain, kita berdua memutuskan untuk bersatu dan tidak akan berpisah lagi

Setelah kita menjadi satu dalam pernikahan, tidak ada lagi “pertempuran” dan keraguan dalam hati, pemikiran dan tingkah laku saya dalam semua perbedaan-perbedaan kami. Dalam musim ini, tidak ada lagi saya, yang adalah kami. Karena itu saya tidak lagi berusaha mengubah Rika untuk menjadi seperti yang saya mau, saya menerima dia dengan utuh, kebaikan dan keburukannya. Saya ajak dia juga untuk menyelami pemikiran dan konsep ini dan ikut melakukannya. Again … she is not me, and i am not her, and now there’s no I but us. Is it easy to accept a person completely ? Of course NO! But if you love your partner, it will give you a reason worth fighting for. Makanya kalo pacaran tuh cek apa kita bisa terima pasangan kita seutuhnya atau tidak, karena komitmen itu tidak akan kadaluarsa. Amsal 4:23, jagalah hatiMU dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Jaga hati sendiri, ga ada kewajiban saya harus harus jaga hati Rika, jaga hati sendiri ajah biar damai sejahtera selalu ada. Sama seperti jaga hati sendiri ajah sulit, maka berharap orang lain berubah juga sulit. dalam sebuah hubungan mengharapkan orang berubah adalah sia-sia dan bodoh. Urus perubahan diri sendiri, berusaha jadi versi lebih baik day by day, ga ada urusan apakah pasangan saya ada perubahan ato tidak. Ini bukan transaksi, saya mau berubah lebih baik karena saya mengasihinya. Kalo fokus kita pada mengasihi, saya rasa tuntutan bisa hilang, sehingga jalan berdua bisa lebih baik. At least itu yang kami berdua rasakan dan jalankan from day one to this ten years of walking together. Rasa cinta / kasih bisa hilang (yes bisa banget) tapi komitmen yang dibuat berdua ga bisa hilang begitu saja, karena kalo hilang, artinya semua kata-kata yang pernah keluar dari mulut yang sama juga dipertanyakan kebenarannya. Rasa cinta harus dipupuk, harus dikerjakan, kasih tidak ada terus secara otomatis tetapi perlu tindakan nyata day by day, hour after hour, minute by minute. Kedua belah pihak membutuhkan ini, saya bukan hanya menulis untuk para laki-laki tapi juga perempuan. Love need to be showered in order to stay. Laki-laki dan perempuan punya cara yang berbeda untuk menyatakan kasih, saya rasa dalam hal ini saya hanya bisa bilang, kalo peryataan kasih dan tindakan kasih harus bisa dinilai oleh yang menerima juga dan bukan hanya dari yang memberi. Trust me, semua orang maunya diperhatikan dan dikasihi, tidak ada satupun yang ingin menjadi subject melakukannya. Apabila anda keberatan dengan ini, maka saya anjurkan berhenti membaca and don’t even bother to have a real relationship. Siapa yang paling tahu bagaimana menyenangkan dan juga mengecewakan pasangan kita ? Yah tentu kita sendiri. Saya tahu betul apa yang bisa membuat istri sana senang, dan saya juga tahu betul apa yang akan membuatnya sedih dan kecewa. Apakah saya pernah sengaja membuatnya sedih dan kecewa ? Kalo sengaja tidak. Kalo tidak sengaja sering, 17 tahun mengenalnya, tidak membuat saya mengerti dia sepenuhnya sampe hari ini, I’ve known her better, better than anyone else maybe, but completely … well that’s gonna need a “little” more time. But it’s a fun journey, because i love her, when she’s sweet and when she’s cranky. HOW COME ? one of the reason is because she loves me too, when I am easy and when I am iritating. we are the same, sama-sama gila, sama-sama rese dan sama-sama nyebelin. Saya rasa kuncinya ada pada penerimaan seseorang secara utuh, dengan kesadaran penuh bahwa kitapun tidak sempurna. kiss your partner, and accept them completely. blessings!

posted on Dec 7th, 2019