I bless the rain down in Africa

Tiga tahun yang lalu saya pernah membuat sebuah status di facebook saya yang isinya : When David Livingstone, the missionary pioneer, was working in Africa, some friends wrote: “We would like to send other men to you. Have you found a good road into your area yet?”

Livingstone wrote back: “If you have men who will only come if they know there is a good road, I don’t want them. I want men who will come if there is no road at all.” — (In Reader’s Digest [8/89], p. 143)

Tidak pernah terpikirkan untuk kemudian saya betul-betul pergi ke Afrika. Bayangan saya tentang Afrika adalah padang gurun dan anak-anak kelaparan, jerapah dan singa di mana-mana. Ternyata Afrika yang saya kunjungi membuka mata saya tentang benua yang sangat indah dan haus akan kabar baik Kristus. Negara yang harus saya kunjungi adalah Uganda, terletak di tengah-tengah dari benua Afrika, berada persis di garis khatulistiwa dan beriklim tropis sama dengan Indonesia. Suhu udara di sana lebih dingin daripada Bandung, Ibukotanya bernama Kampala dan berada 1190m di atas permukaan laut (Bandung hanya 768m dpl) sehingga suhunya berkisar 17–23 °C . So I was in Africa and it was cooler than Bandung, more like Lembang. Selain suhu, makanan mereka juga cukup membuat terkejut karena mereka tidak makan nasi sebagai makanan pokok tetapi pisang muda yang dibuat seperti bubur padat bernama matoke. well, first of all i don’t like banana, but it said that the matoke is served if only they honor the guest who’s coming. so … i ate it, gladly.

outside than the food, the African is a different breed in praising God, they’ll sing really loud, they’ll be jumping like very free, they’ll be dancing like they own the place, and they’ll fall to their knee like no other people. Jika Anda ada bersama saya, Anda akan merasakan suasana yang luar biasa, bukan karena mereka melompat atau menari, tetapi juga karena Anda akan tahu bahwa HadiratNya nyata di tempat itu.

For those of you who doesnt know why i need to be in Uganda, adalah karena di Afrika, banyak sekali gereja IFGF, hasil dari pelatihan dan juga penginjilan dari Ps. Daniel Hanafi (IFGF Los Angeles) bertahun-tahun lalu. Gereja-gereja ini bertumbuh dan berkembang sampai akhirnya mereka perlu sistem discipleship seperti yang kita gunakan di Bandung dan di kota-kota besar di Jawa. Jadi perjalanan saya ke Uganda adalah untuk mengajar #igrowjalanterus dan #icarejalanterus di sana. Saya bersyukur karena apa yang dibangun oleh Ps. Daniel Hanafi di Afrika adalah gereja yang solid dan kuat dalam pengajaran dan pemahaman akan Firman Tuhan, sehingga yang perlu saya kerjakan hanya menyiram dan memberikan pupuk bagi pekerjaan Tuhan di sana. Apalagi gereja di sana sangat haus dalam belajar, dari mulai para asisten pastor umur 19 sampai para lead pastor yang senior. Saya pergi ke dua kota tempat jemaat kita berada yaitu di Kampala dan Fort Portal. Kampala sebagai ibukota dihadiri kurang lebih 65 peserta dalam conference / pastoral training ini, ada 28 gereja IFGF dari berbagai daerah di sekitar Kampala dan bahkan ada beberapa yang datang negara-negara sekitar Uganda, seperti Kenya dan Rwanda.

I love the church here in Kasangati so much, they are young and vibrant and willing to pay any price to grow in the Kingdom of God. I will certainly go back to Uganda and visit Kasangati again, I’m looking forward to what God has in store for them.

Conference kedua di Fort Portal, sebuah kota kecil di ujung barat Uganda berbatasan dengan Republik Congo, perjalanan yang seharusnya kurang lebih 7 jam dengan mobil, ditempuh hanya 4 jam hanya karena God’s favor. Selama perjalanan saya menikmati pemandangan dan jalan yang sudah sangat baik dan juga terawat dengan baik. Hutan yang masih sangat asri dan burung-burung yang masih tebang bebas dan bersuara dengan bebas. Perjalanan ke Fort Portal merubah banyak pendapat saya soal Afrika, this place is beautiful.

Setelah sampai di Fort Portal saya langsung memulai 2 days conference di sana bersama kurang lebih 60 peserta dari 25 gereja IFGF di daerah barat Uganda. Daerah barat Uganda cukup jauh dari ibukota sehingga demografinya lebih banyak orang-orang yang lebih tua, koordinator di sana bernama Ps. Francis Gamukama berumur 70 dan masih memimpin gerejanya dan mengawasi sekitar 25 gereja IFGF di daerah barat Uganda. Pesan Tuhan tentang regenerasi sangat kuat ketika saya mengajar disitu, sehingga ketika saya sampaikan, anak-anak muda disana sangat bersyukur karena akhirnya ada konfirmasi dari doa-doa mereka selama ini.

Dari Fort Portal saya kembali ke Kampala untuk Sunday Service di IFGF Kasangati. Seperti dugaan saya selama saya mengajar di sana, IFGF di Kampala akan memiliki Sunday Service yang all out in spite of tempat mereka yang tidak begitu baik dan sarana yang terbatas. Saya belajar banyak tentang bagaimana memuji dan menyembah bukanlah soal panggung yang bagus dan sarana yang baik tetapi soal hati. Their heart during the praise and worship is something i never seen in any other places, it’s just gold.

Perjalanan ke Afrika menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, and i really hope this will not stop here, there’ll be another trip and another story to tell. Mukama Akuwe Omukisa means God bless you in Luganda, the language mainly spoken throughout Kampala. Living the dream. -Ps. Yo Kusika

posted on Sept 19th, 2019